“Tol Mini”, Jembatan Alternatif Anti Macet

 Informasi, Terkini

Pengendara sepeda motor saat melintas di jembatan alternatif di lokasi pembangunan Jembatan Ngujang II Desa Pucunglor Kecamatan Ngantru

“Tol Mini”, Jembatan Alternatif Anti Macet

* Baru lima hari, sehari tembus 500 penyeberang

Suasana di area pembangunan jembatan Ngujang II (Sungai Berantas) di Desa Pucunglor Kecamatan Ngantru yang biasanya sepi kini mendadak ramai. Pasalnya, dilokasi tersebut telah dibangun “Tol Mini” atau jembatan alternatif yang menghubungkan Desa Pucunglor dengan Desa Bukur Kecamatan Sumbergempol. Dengan biaya Rp 3.000 per kendaraan, pengendara sepeda motor sudah bisa melintas dan menghemat jarak tempuh hingga 3 kilometer serta bebas macet.

Meski baru lima hari dibuat, jembatan yang terbuat dengan perpaduan bambu dan kayu sepanjang 80 meter dengan lebar sekitar 2,5 meter tersebut telah banyak menyeberangkan ratusan pengendara roda dua. Bahkan, dalam sehari bisa tembus 500 penyeberang dengan omzet sekitar Rp 1,5 juta.

Agus Triono (35) warga Desa Pucunglor Kecamatan Ngantru salah satu penggagas jembatan “Tol Mini” tersebut mengatakan, ide pembuatan jembatan tersebut muncul ketika dirinya sedang “ngopi” bersama kelima temannya. Sambil mengobrol, tiba-tiba dirinya melontarkan gurauan bagaimana jika membuat jembatan yang bisa menghubungkan ke tempat sebelah (Desa Bukur-red).

“Mendengar celotehan saya, ternyata kelima teman saya antusias. Bahkan berminat untuk mewujudkannya,” katanya.

Setelah pertemuan tersebut lanjut Agus, satu persatu peralatan dan perlengkapan untuk membuat jembatan tersebut pun dipersiapkan. Uang sebesar Rp 2,5 juta dari hasil patungan pun telah dibelanjakan bambu, kayu, tambang, drum, paku, kawat, dan sebagainya. Namun saat jembatan sudah terbangun hampir 75 persen tiba-tiba jembatan roboh karena tidak kuat menahan derasnya air Sungai Brantas.

“Dasar Sungai di lokasi memang tidak dalam, tetapi aliran airnya sangat deras. Jadi penyangga jembatan roboh,” terangnya.

Agus melanjutkan, kegagalan tersebut ternyata tidak menyurutkan semangatnya beserta kelima temannya. Setelah mencari informasi dan berkonsultasi dengan banyak pihak akhirnya diketahui ada bagian konstruksi jembatan sebelumnya yang harus diperbaiki. Seperti, penyangga jembatan harus kuat, tertanam dalam dasar sungai minimal 2 meter, dan mampu menahan derasnya air sungai serta goncangan saat jembatan dilewati.

“Dalam rancangan kedua ini, kami tambahkan beberapa besi penyangga yang ditanam di dasar sungai. Pada bagian dasar jembatan juga kita beri kayu glugu dan bambu,” jelasnya.

Di rancangan kedua tersebut Agus mengatakan, dirinya bersama kelima temannya menghabiskan uang sekitar Rp 15.600.000. Kemudian pengerjaan jembatan dimulai pada awal Juni dan selesai pada Kamis (14/6) malam.

“Bahkan kami memasang penerangan jembatan dan di sepanjang jalan menuju jembatan hingga Jumat (15/6) dini hari,” ujarnya.

Masih menurut Agus, sebelum dibuka untuk umum, pihaknya menguji jembatan tersebut terlebih dahulu dengan 15 sepeda motor yang melintas sekaligus. Walau jembatan mampu menahan, namun pihaknya hanya memperbolehkan sepeda motor yang melintas untuk jalur searah secara bergantian.

“Hari pertama buka sudah banyak yang melintasinya. Bahkan saat melintas mereka mengabadikannya dengan berswa foto. Sehingga informasi adanya jembatan alternatif ini cepat meluas,” terangnya.

Meski jembatan sudah bisa dilewati untuk umum, namun Agus menegaskan setiap waktu pihaknya selalu melakukan pengecekan terhadap kondisi jembatan tersebut. Hal itu dilakukan untuk memastikan jembatan alternatif tersebut masih dalam kondisi aman untuk dilalui.

“Yang paling sering mengganti yakni anyaman bambu sebagai alas untuk melintas,” imbuhnya.

 Agus menambahkan, dengan adanya jembatan alternatif ini pihaknya meyakini bisa membantu memperpendek jalur pengguna jalan hingga 3 kilometer. Karena selain pemudik, jembatan alternatif tersebut nantinya juga akan dilewati anak sekolah, karyawan dan pedagang.

“Banyak lo pelajar yang sekolahnya di seberang, kalau lewat sini kan bisa memangkas jalur,” tukasnya.

Sementara itu Dimas salah satu warga yang melintas di jembatan alternatif tersebut mengetahui adanya jembatan tersebut dari tetangganya. Kemudian saat hendak berkunjung ke rumah saudaranya dirinya mencoba melewati jembatan alternatif tersebut, Menurutnya, saat melintas tetap ada kekawatiran, namun hal tersebut tertutupi dengan situasi lokasi yang pemandangannya cukup indah.

“Agak takut juga mas, karena baru kali ini saya melintas,” ucapnya sambil tersenyum. (dju).

Author: 

Related Posts

Leave a Reply