Mau Kerja Sampingan, Eh Malah

 Informasi, Terkini

Kapolres Tulungagung AKBP Tofik Sukendar (berseragam) bersama Kasatreskrim AKP Mustijat Priyambodo saat menunjukkan barang bukti bubuk mesiu

Mau Kerja Sampingan, Eh Malah

Ingandaya — Berharap mendapat penghasilan tambahan selama bulan ramadan, dua pemuda dari Desa Gilang Kecamatan Ngunut dan 1 warga dari Desa Sukorejo Kecamatan Udanawu Kabupaten Blitar malah harus berurusan dengan polisi. Karena ketiganya diduga mengedarkan bahan peledak jenis mesiu.

Ketiga pelaku  tersebut yakni AM  (20), dan VN (22) warga Desa Gilang Kecamatan Ngunut serta MS (32) warga Desa Sukorejo Kecamatan Udanawu Kabupaten Blitar

Dari kasus tersebut, polisi  berhasil mengamankan barang bukti berupa 17,5 kilogram bubuk mesiu yang dikemas dalam plastik 1 kilogram,  71 sumbu petasan, dua buah handphone (hp) merk Nokia, sebelas kertas gulungan (bahan mercon) berdiameter sekitar 2 sentimeter, sebuah tas warna hitam, dan satu unit sepeda motor merk Honda Scoopy AG 6099 RAY yang dikendarai pelaku.

“Ketiganya sudah diamankan di Mapolres,” tegas Kapolres Tulunggaung AKBP Tofik Sukendar pada Senin (4/6/2018) siang.

Dijelaskan, pengungkapan kasus tersebut bermula dari hasil penyelidikan anggota yang menginformasikan jika ada dua orang pemuda telah melakukan transaksi bahan peledak jenis mesiu. Diperkirakan, dua pemuda tersebut akan melintas di jalan raya masuk Desa/Kecamatan Ngunut pada Minggu malam.

“Berbekal ciri-ciri yang didapat, petugas langsung menyisir di sepanjang jalan tersebut,” katanya.

Sekitar pukul 22.30 WIB lanjut Tofik, ternyata benar ada dua pemuda yang melintas dengan ciri-ciri yang disebutkan antara lain mengendarai Honda Scoopy warna biru putih, bergandengan dua, dan memakai tas punggung. Mengetahui itu petugas langsung menghentikan laju sepeda motornya.

“Saat digeledah ternyata di dalam tas punggung tersebut terdapat 5 bungkus bubuk mesiu dengan berat masing-masing 1 kilogram, 71 buah sumbu petasan, dan 11 kertas gulungan untuk petasan,” katanya.

Mengetahui itu, kedua pemuda tersebut langsung digelandang ke Mapolres untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Kepada petugas, kedua pemuda tersebut mengaku bubuk mesiu didapatkan dari MS. Dimana setiap kilogramnya dibeli seharga Rp 220.000 dan dijualnya kembali seharga Rp 270.000.

“Dua pemuda ini mengaku sudah dua kali bertransaksi dengan MS, pertama membeli 4 kilogram, kedua 6 kilogram. Nah, saat tertangkap itu, tersangka baru menjual 1 kilogram,” jelasnya.

Setelah identitas MS diketahui, anggota langsung menuju kerumahnya pada Senin (4/6) dini hari. Ternyata benar, dirumahnya petugas menemukan 12,5 kilogram bubuk mesiu yang disimpan di dalam rumahnya.

“Kalau MS mengaku belinya dari seseorang dari Nganjuk,” terangnya.

Masih menurut Tofik, ketiganya mengaku baru lebaran kali ini menjalankan bisnis haram tersebut. Rencana hasil keuntungan akan digunakan untuk hari raya. Tetapi sebelum rencananya berjalan keburu tertangkap petugas.

Tofik menambahkan, kini pihaknya masih melakukan penyidikan kasus tersebut. Petugas juga tengah melakukan penelusuran terhadap penjual dari Nganjuk yang disebutkan oleh Subhan.

“Tersangka akan dijerat dengan pasal 1 ayat (1) dan ayat (3) UURI No 12/Drt/1951 dengan ancaman hukuman maksimal 20 tahun penjara,” imbuhnya. (Dju).

Author: 

Related Posts

Leave a Reply