Dikira Batu Biasa, Eh Ternyata ?

 Budaya, Informasi, Terkini

 

Winartin menunjukkan batu relief temuannya

Dikira Batu Biasa, Eh Ternyata ?
Ingandaya, Saat juru pelihara (Jupel) Candi Penampihan yang terletak di Dusun Turi Desa Geger Kecamatan Sendang membersihkan bebatuan, lumpur, dan bunga teratai di kolam pada Senin (7/5) siang. Tak sengaja dirinya menemukan batu besar. Saat diangkat ternyata terdapat lima batu peninggalan sejarah satu diantaranya ber relief gambar raja.
Dijelskan Winartin (53) Juru pelihara (jupel) Candi Penampihan yang menemukan batu ber relief tersebut mengatakan, kelima batu tersebut ditemukan di kolam selebar 1,5 meter dan panjang 2,5 meter yang terletak tepat di bawah Candi Penampihan. Sebelum ditemukan, awalnya Winarti membersihkan kolam tersebut dengan cara menceburkan diri. “Kira-kira kolamnya sedalam 0,5 meter,” katanya.
Saat membersihkan teratai, lumpur dan bebatuan di dasar kolam, tiba-tiba tanpa sengaja kedua tangannya menyentuh batu yang besar. Awalnya Winartin mengira batu tersebut adalah batu biasa. Namun saat digerayangi ternyata batu tersebut tidak rata. “Terasa seperti ada ukirannya,” terangnya.
Untuk memastikan itu batu jenis apa, Winartin mencoba mengangkatnya. Meski sangat berat akhirnya batu berhasil diangkat hingga ke bibir kolam. Melihat salah satu sisi batu terdapat gambar relief raja spontan Winartin langsung kaget. Seketika dirinya kembali masuk ke dalam kolam untuk mencari batu sejenis yang kemungkinan masih ada di dasar kolam. “Di dasar kolam, saya banyak mengangkat bebatuan namun menemukan hanya ada empat batu yang seperti bertema,” katanya.
Keempat batu tersebut diantaranya, satu batu berelief dengan ukuran lebih kecil namun tanpa gambar raja. Sedangkan tiga batu lainnya berukuran kecil, apabila ketiganya digabungkan membentuk setengah lingkaran. “Setelah itu saya langsung melaporkannya ke Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur yang ada di Tulungagung,” terangnya.
Disinggung apakah ada firasat sebelum menemukan kelima batu tersebut Winartin mengaku tidak ada firasat. Hanya saja, ketika pertama kali menyentuh batu tersebut dirinya mendapat dorongan untuk mengangkatnya ke permukaan. “Padahal sangat berat, tetapi seperti ada dorongan untuk mengangkatnya,” tukasnya.
Sementara itu, Korwil BPCB Jawa Timur di Tulungagung sekaligus pengelola museum Wajakensis Haryadi membenarkan penemuan tersebut. Menurutnya kelima batu tersebut telah dievakuasi sejak Rabu (9/5) oleh tim nya kemudian di titipkan ke museum Wajakensis untuk diamankan. “Sudah diamankan. Kita juga sudah koordinasi dengan BPCB Trowulan,” katanya.
Haryadi melanjutkan, dirinya belum berani berandai-andai batu tersebut jenis apa dan dari masa apa. Karena masih perlu dilakukan kajian dan penelitian lebih lanjut. Namun, diduga batu tersebut masih terkait dengan candi Penampihan. “Nanti setelah tim BPCB Provinsi melakukan riset hasilnya pasti akan dijelaskan,” tukasnya. (dju)

Author: 

Related Posts

Leave a Reply