Akhir Pekan Yang Kelam, 4 Lakalantas 5 Tewas

 Informasi, Terkini

suami korban saat berada di depan mayat istrinya di lokasi

Akhir Pekan Yang Kelam

* 4 Lakalantas, 5 korban Tewas

Ingandaya — Meningkatkan kehati-hatian dan kewaspadaan saat berada di jalan raya merupakan harga mati yang tidak bisa ditawar. Pasalnya, angka kematian yang disebabkan kecelakaan lalu lintas (lakalantas) di Kota Marmer cukup tinggi.

Sejak Januari hingga Juli 2018 setidaknya 77 nyawa melayang karena lakalantas. Jumlah tersebut belum ditambah dengan 4 kasus lakalantas yang mengakibatkan 5 korban tewas pada akhir pekan ini. Sehingga jumlah total menjadi 82 nyawa.

Adapun beberapa kejadian lakalantas yang merenggut lima nyawa tersebut diantaranya, pada Jumat (20/7) pukul 15.00 WIB di Desa Pinggirsari Kecamatan Ngantru.

Saat itu sepeda motor Honda Vario AG 3470 PY yang dikendarai Rusminto (58) warga Desa Sentul Kecamatan Kepanjen Kidul Kabupaten Blitar yang membonceng istrinya Suprapti (54) menabrak Dump Truck AG 8386 RL dari arah berlawanan yang dikemudikan Langgah Satrio Pawulung (22) warga Desa Krosok Kecamatan Sendang. Akibatnya, Suprapti tewas seketika karena terlindas Dump Truck.

Kejadian kedua pada Sabtu (21/7) pukul 05.00 WIB di jalan umum masuk Desa/Kecamatan Campurdarat.

Saat itu sepeda motor Yamaha Byson AG 4533 KAL yang dikendarai Ade Hermawan (41) warga Desa Purwarahayu Kecamatan Taraju Kabupaten Tasik Malaya Provinsi Jawa barat menabrak Dump Truck AG 8227 US yang dikemudikan Sukirno (51) warga Desa Tanggul Kundung Kecamatan Besuki. Kerasnya benturan mengakibatkan Ade Hermawan tewas seketika karena mengalami luka yang cukup serius pada kepalanya.

Lakalantas yang paling tragis terjadi pada Sabtu (21/7) pukul 23.00 WIB di jalan umum masuk Desa/Kecamatan Ngunut. Karena langsung memakan dua korban tewas sekaligus.

Yakni sepeda Motor Honda Beat AG 3864 RBM yang dikendarai Alfin Andriawan (14) warga Lingkungan 9 Desa/Kecamatan Ngunut dengan membonceng Agus Tri Setiawan (20) bertabrakan dengan sepeda motor Honda Scopy AG 5268 KAB yang dikendarai Robi Miftakul Arzaq (18) warga Desa Plumpungrejo Kecamatan Kademangan Kabupaten Blitar dengan membonceng Wawan Waluyo (27) warga Desa Kalikuning Kecamatan Wonotirto Kabupaten Blitar.

Dari kejadian tersebut, dua pengendara sepeda motor langsung tewas di lokasi.

Dan terakhir pada Minggu (22/7) pukul 11.00 WIB di jalan umum masuk Desa Ringinpitu Kecamatan Kedungwaru. Badri (51) warga Desa Sumberdadi Kecamatan Sumbergempol harus meregang nyawa dengan luka yang cukup parah di bagian kepala karena bertabrakan dengan sepeda motor Honda Vario warna merah yang belum diketahui identitasnya.

Menurut keterangan warga, saat itu korban melaju dari arah barat menuju ke timur. Saat korban berada di tengah jalan (diduga akan belok ke selatan), dari arah timur melaju sepeda motor Honda Vario warna merah dengan kencang dan brak, tabrakan pun tak terhindarkan.

Mengetahui korbannya jatuh bersimbah darah, pengendara motor yang belum diketahui identitasnya tersebut melarikan diri kea rah barat.

“Cukup disayangkan, penyebab keempat lakalantas tersebut diduga karena pengendara sepeda motor kurang memperhatikan situasi jalan didepannya,” kata Kasubbag Humas Polres Tulungagung Iptu Sumaji.

Sumaji melanjutkan, tingkat fatalitas korban kecelakaan sebenarnya bisa diminimalisir. Diantaranya, dengan tetap mematuhi marka jalan. Hal inilah yang sering dikesampingkan oleh pengguna jalan. Ketika tergesa-gesa, mereka biasanya melegalkan segala cara.

“Saat situasi jalan sepi mereka menganggapnya sudah aman, padahal marka jalan tetap dipatuhi,” ujarnya.

Selain itu lanjut Sumaji, batas kecepatan untuk karakter jalan di Tulungagung maksimal hanya 60 km/jam — 70 km/jam. Menurutnya, dengan kecepatan dibawah 60 km/jam kendaraan masih mudah untuk dikendalikan. Apabila terjadi situasi yang mendadak, pengendara/pengemudi masih ada jeda waktu untuk mengkondisikan kendaraannya. Jika terjadi kecelakaan, otomatis tingkat fatalitas lebih sedikit daripada yang berkecepatan tinggi.

“Lihat saja di pagi hari saat waktunya berangkat sekolah/kerja, semuanya terburu-buru dan dengan kecepatan tinggi,” imbuhnya.

Sumaji menambahkan, berbagai upaya telah dilakukan pihaknya melalui Satlantas. Sosialisasi, pemetaan daerah rawan kecelakaan, pemberian tindakan hukum bagi pelanggar, memperketat proses pengurusan Surat Ijin Mengemudi (SIM), hingga penjagaan di titik dan waktu tertentu. Namun semua akan sia-sia ketika hal itu tidak diiringi dengan komitmen masyarakat. (dju).

Author: 

Related Posts

Leave a Reply