Tulungagung Masuk On the Spot

 Budaya, Informasi, Pendidikan

 

Tulungagung Masuk On the Spot

Ingandaya, Acara On The Spot Trans 7 pada Rabu (9/5/2018) mengangkat misteri candi yang berada di Nusantara. Salah satunya candi Dadi yang terletak Di Dusun Mojo Desa Wajak Kidul Kecamatan Boyolangu.

Seperti yang diungkapkan dalam acara tersebut, nama candi Dadi dari bahasa jawa yang artinya jadi. Konon, terbentuknya candi Dadi dilatarbelakangi dari bentuk candinya yang paling sempurna diantara candi lainnya.

Asal muasal candi tersebut bermula ketika salah seorang pangeran melamar seorang putri Dusun Kedungjalin. Lamaran tersebut akan diterima namun dengan syarat, diantaranya dibuatkan empat candi dalam satu malam.

Pangeran pun menyetujuinya dan dimulailah pembuatannya. Kemudian ketika keempat candi hampir jadi, maka putri yang sejatinya menolak lamaran tersebut mencari akal untuk menggagalkan pembuatan candi. Yaitu dengan menyuruh beberapa ibu desa membunyikan suara lesung.

Alhasil, candi keempat pun tak terselesaikan karena pangeran mengira waktu sudah pagi. Oleh masyarakat, candi keempat ini dinamakan candi Urung, karena bentuknya yang tidak sempurna.

Sewaktu mengetahui tipu muslihat tersebut, pangeran pun marah dan mengutuk para perempuan di desa itu. Yakni mereka tidak akan mendapatkan jodoh melainkan setelah usianya menginjak tua.

Cerita itulah yang kini masih menjadi misteri dan melekat pada masyarakat yang tinggal di sekitar candi Dadi. Bahkan, masyarakat sekitar juga masih mempercayai cerita tersebut.

Seperti yang dilansir VIVA.co.id, candi Dadi merupakan peninggalan kerajaan Majapahit sekitar akhir abad XIV hingga akhir abad XV. Candi ini disebut-sebut dibangun  rakyat Majapahit yang beragama Hindu-Budha yang mengasingkan diri dari kerajaan.

Sepanjang  perjalanan menuju candi-candi ini masih dapat ditemukan sisa bangunan kuno yakni candi urung, candi buto dan candi gemali. Sayangnya candi-candi tersebut sudah tidak terlihat lagi bentuknya, kecuali gundukan batuan andesit yang jumlahnya sangat minim yang menandai keberadaannya zaman dahulu.

Candi ini merupakan candi tunggal yang tidak memiliki tangga masuk hiasan maupun arca. Denah Candi berbentuk bujur sangkar dengan ukuran panjang 14 meter lebar 14 meter dan tinggai 6.50 meter.

Bangunan berbahan batuan andesit itu terdiri atas batur dan kaki candi. Berbatur tinggi dan berpenampilan setiap sisinya.

Bagian atas batur merupakan kaki candi yang berdenah segi delapan, pada permukaan tampak bekas tembok berpenampang bulat yang kemungkinan berfungsi sebagai sumuran.

Diameter sumuran adalah 3.35 meter dengan kedalaman 3 meter. Dulunya di sumuran yang terletak di atas candi ini bisa ditemukan abu. Uniknya, sumuran itu, ketika hujan turun sederas apapun, di dalam sumuran tidak pernah menggenang air. Air yang turun langsung meresap ke dalam.

Nah, cukup membanggakan bukan. Ternyata di Kota Marmer tercinta masih menyimpan berjuta misteri yang belum terungkap. (dju).

Author: 

Related Posts

Leave a Reply