Destinasi Kuliner Ramadan

 Informasi, Kuliner

Suasana di area kuliner Kalurakan Kepatihan dan Kelurahan Bago Kecamatan Tulungagung

Destinasi Kuliner Ramadan

Ingandaya — Bagi masyarakat Tulungagung tentunya pernah melewati Jalan MT Haryono masuk Kelurahan Bago dan Kelurahan Kepatihan Kecamatan Tulungagung atau tepatnya di sebelah utara simpang empat masjid Al Muslimun.

Di lokasi yang membentang dari utara ke selatan sejauh sekitar 1,5 kilometer tersebut banyak ditemukan puluhan penjual berbagai makanan olahan siap saji. Bermacam sayuran, aneka lauk pauk, jajanan tradisional dan berbagai minuman banyak tersedia tentunya dengan harga yang sangat terjangkau.

Setiap lapak atau penjual pasti menyediakan lebih dari 10 jenis dagangan. Dengan ber modal kan uang Rp 10 ribu, dijamin bisa membuat perut yang keroncongan menjadi kenyang.

Nah, bagaimankah situasinya ketika memasuki bulan ramadan ? Menurut pemantauan penulis, mulai pukul 15.00 WIB beberapa penjual telah mulai menyiapkan dagangannya dengan menata di lapaknya. Selain itu banyak orang berlalu lalang yang sibuk menitipkan dagangannya. Ya, tidak semua masakan tersebut di masak sendiri oleh penjualnya. Melainkan sebagian merupakan titipan dari tetangga atau dari pihak catering.

Memasuki pukul 15.30 WIB satu persatu pembeli pun mulai menunjukkan batang hidungnya. Dengan sigap para penjaga memberikan semacam “lengser dari plastik” kepada para pembeli. Tujuannya agar pembeli lebih mudah memilih makanan yang akan dibeli. Kemudian pihak penjual tinggal menghitung berapa uang yang harus dibayarkan.

Namun, ada juga penjual yang melayani pembeli satu persatu. Karena sayur dan masakan yang lain belum dikemas.

Inna salah satu pedagang makanan mengaku hanya berjualan ketika bulan Ramadan saja. Menurutnya, ketika bulan Ramadan antusias warga lebih tinggi daripada bulan-bulan sebelumnya. Apalagi, dirinya tidak harus memasak semua makanannya. Karena masyoritas adalah barang titipan.

“Saya hanya menyediakan meja dan tenaga mas, jadi tidak ribet,” jelasnya.

Berbeda halnya dengan Ilham, menurutnya dirinya sudah membuka usaha tersebut sejak limat tahun silam. Awalnya semua makanan dimasak sendiri oleh istri dan ibunya. Namun lambat laun, banyak orang yeng menitipkan masakan kepadanya.

“Kebanyakan jajan dan sayur yang titipan mas,” terangnya.

Ketika di bulan Ramadan lanjut Ilham, pendapatannya bisa naik hingga 100 persen. Menurutnya hal ini disebabkan karena banyak masyarakat yang memilih membeli masakan jadi daripada memasak.

“Kalau membeli lebih ringkas, bisa memilih masakan. Jika masak mungkin hanya satu jenis,” katanya.

Disinggung terkait keamanan dan kehigienisan masakan yang dijualnya, Ilham mengaku berani menjaminnya. Meski dijual, dirinya tetap memperhatikan proses pembuatannya.

“Kami juga memakan makanan ini. Tidak berani mencampurnya dengan bahan-bahan yang aneh-aneh. Karena ini mata pencaharian kami,” jelasnya.

Demikian halnya dengan makanan titipan, mereka yang menitip juga memperhatikan kondisi pasar, artinya tidak berani memproduksi dengan sekala besar. Manakala membuat 10 bungkus, apabila hanya laku 7 bungkus berarti keesokannya hanya menitipkan 7 bungkus.

Sementara itu, Eko warga setempat, salah satu pembeli mengaku tidak kawatir dengan masakan yang dijual. Dirinya lebih memilih membeli daripada memasak karena lebih efisien dan bisa beristirahat dengan cukup.

Nah, bagaimanakan dengan anda, mau mencoba mencicipi aneka masakan di Jalan MT Haryono ? Yuk segera mampir. (Dju).

Author: 

Related Posts

Leave a Reply